Makna Di Balik Model-Model Atap Rumah Tradisional

Posted on

Terkadang, konsep atap rumah tradisional memiliki filosofi tersendiri. Bahkan, setiap bagian memiliki makna khusus dengan karakteristik yang berbeda-beda di setiap daerah asalnya. 

Menariknya, Indonesia memiliki berbagai model atap tradisional yang memiliki makna filosofis mendalam. Bahkan, atap rumah juga menjadi ajang khusus untuk menunjukkan status sosial dari penghuninya. Penasaran model atap rumah apa saja yang tersebar di Indonesia? Simak pada pembahasan berikut. 

Atap Rumah Tradisional
Wikipedia

Mengenal Makna Model Atap Rumah Tradisional di Indonesia

Pada dasarnya, setiap daerah memiliki atap tradisional dengan gaya yang berbeda-beda. Setiap gaya yang diusung, memiliki makna khusus di dalamnya. 

Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 37 rumah tradisional yang memiliki karakter khas dari daerah masing-masing. Berikut makna dari sebagian atap tradisional yang tersebar di Indonesia. 

Model Atap Limasan

Atap limasan merupakan konsep desain khas Betawi. Sebenarnya, daerah ini memiliki dua rumah tradisional yang khas, yakni rumah panggung dan rumah datar. 

Meskipun berbeda, keduanya memiliki atap yang sama dan kerap disebut sebagai limasan. Sekilas, bentuk atap ini mirip seperti limas. Keunikannya, terletak pada setiap sudut atap yang memiliki tempat penampungan air. 

Secara umum, teras rumah betawi selalu tertutup oleh atap, karena masyarakat sadar akan curah hujan tinggi di daerahnya. Maka dari itu, masyarakat Betawi perlu melindungi seluruh bagian rumahnya dari hujan, melalui atap rumah tradisional model limasan. 

Model Atap Pencu

Atap pencu merupakan rancangan khas tradisional asal Kudus, Jawa Tengah. Bentuk atap rumah ini menyerupai sebuah limas. Namun, di setiap sisi atap memiliki unsur dekorasi ukiran yang khas dari daerah kudus. 

Inspirasi rumah tradisional khas ini berasal dari karakter religius masyarakat Kudus. Berdasarkan makna yang mendalam tersebut, jenis rumah ini juga kerap dijadikan sebagai tempat untuk berdakwah. 

Model Atap Balon

Rumah balon merupakan desain tradisional khas dari masyarakat Batak. Sekilas, desain atap rumah ini mirip seperti hunian khas di daerah Minang. Namun, atap rumah balon berbentuk melengkung di bagian sisi depan dan belakangnya. 

Selain itu, bentuk atap balon juga menyerupai pelana kuda. Setiap puncak atap, terdapat unsur tambahan kepala kerbau. Tidak hanya sebagai dekorasi saja, kepala kerbau pada puncak atap rumah tradisional ini juga menunjukkan soal kesejahteraan dari penghuni rumahnya. 

Model Atap Bagonjong

Sebenarnya, rumah bagonjong merupakan nama lain dari hunian gadang khas daerah Minangkabau. Ciri khas dari atap ini berbentuk runcing seperti tanduk kerbau. 

Pada zaman dahulu, atap rumah bagonjong terbuat dari ijuk yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Namun, di era modern saat ini banyak atap rumah bagonjong yang sudah terbuat dari seng. 

Bentuk atap bagonjong mengandung filosofi status sosial seseorang. Jenis atap ini merupakan representasi kerbau yang dianggap sebagai binatang paling dihormati oleh masyarakat adat. 

Konon, bentuk tanduk kerbau diawali oleh peristiwa adu kerbau dari Majapahit dan Minang. Dalam pertarungan tersebut, Majapahit membawa tanduk besar, sedangkan Minang membawa kerbau yang masih anak-anak dan dalam kondisi lapar. Namun, anak kerbau tersebut diberi tanduk dari besi sehingga dapat memenangkan pertarungan. 

Melansir dari kanal Youtube Creative Hamdi, rumah atap bagonjong bentuk atapnya melengkung tajam ke atas, menyerupai tanduk kerbau. Bentuk atap ini memiliki makna kemenangan bagi mereka yang mengadu kerbau, sebagai cara untuk menghindari perang. Tanduk kerbau melambangkan kemakmuran, karena binatang tersebut berjasa di dalam kehidupan masyarakat, terutama bidang pertanian. Atap rumah bagonjong sering digunakan untuk musyawarah keluarga dan upacara adat yang dianggap suci oleh masyarakat setempat. 

Model Atap Nias

Tahukah kamu bahwa rumah tradisional di Nias memiliki model atap yang khas? Bentuk atap ini menyerupai kerucut yang dilapisi sekumpulan daun kering. 

Atap rumah nias selalu diganti setiap dua tahun sekali. Menariknya, atap rumah Nias memiliki pengaturan panjang dan kemiringan yang sangat baik.

Saat terguyur hujan, air akan jatuh ke tempat yang sama. Selain itu, atap juga memiliki kisi-kisi jendela, sehingga mampu melancarkan sirkulasi udara di area dalam rumah. 

Model Atap Tongkonan

Atap tongkonan merupakan model rumah tradisional khas masyarakat Toraja. Sekilas, desain atap rumah tradisional ini mirip seperti rumah bagonjong dan rumah balon.

Atap tongkonan berbentuk tanduk kerbau dari susunan bambu. Namun, saat ini sudah banyak masyarakat yang menggunakan konsep desain atap tongkonan menggunakan material seng. 

Biasanya, atap rumah tongkonan identik dengan status sosial penghuninya. Di bagian atap, terdapat patung kepala kerbau yang menunjukkan status sosial serupa. Namun, beberapa rumah juga ditemukan hiasan patung kepala ayam atau naga yang menunjukkan rumah sosok tetua di daerah tersebut. 

Atap rumah tradisional menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan, terlebih di era gempuran hunian modern seperti saat ini. Model atap tradisional memiliki desain unik dan makna filosofis menjadalam, sehingga cocok bagi mereka yang ingin menggabungkan unsur budaya dengan konsep hunian modern. /Siti